Indeks Kota Cerdas Diperkenalkan

Sumber: kompas.com, 24 Maret 2015 16:38 WIB
JAKARTA, KOMPAS — Institut Teknologi Bandung, harian Kompas, dan Perusahaan Gas Negara meluncurkan Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015 di Jakarta, Selasa (24/3). Indeks ini bertujuan untuk mengukur dan memeringkat kinerja pengelolaan kota berbasis teknologi digital terhadap pelayanan masyarakat.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi pembicara utama dalam acara peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia yang digagas harian Kompas, ITB, dan PGN di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (24/3).Kompas/Totok WijayantoWakil Presiden Jusuf Kalla menjadi pembicara utama dalam acara peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia yang digagas harian Kompas, ITB, dan PGN di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (24/3).

Peluncuran dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ikut mendampingi, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Rektor Institut Teknologi Bandung Kadarsah Suryadi, dan Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso.

Indeks Kota Cerdas 2015

Peluncuran Indeks Kota Cerdas 2015

Sebanyak 98 kota di Indonesia mengikuti penilaian untuk dievaluasi menggunakan Indeks Kota Cerdas. Parameter ini mempertimbangkan kemampuan kota untuk mengelola sumber daya yang terbatas secara cerdik demi menjamin bahwa tempat tersebut layak huni bagi warganya.

Konsep Kota Cerdas yang digagas ITB, PGN, dan Kompas adalah kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan pelayanannya, mengurangi biaya dan pemakaian konsumsi, serta untuk lebih terlibat lebih aktif dan efektif dengan warganya.

Konsep ini terdiri atas tiga area. Pertama adalah cerdas secara ekonomi. Maksudnya, kota ditopang oleh perekonomian yang baik dengan memaksimalkan sumber daya atau potensi kota, di antaranya adalah layanan TIK, tata kelola, dan peran sumber daya manusia yang baik.

Kedua adalah masyarakat sosial cerdas yang memiliki keamanan, kemudahan, dan kenyamanan dalam melakukan interaksi sosial dengan sesama masyarakat ataupun dengan pemerintah.

Ketiga, masyarakat lingkungan cerdas. Maksudnya adalah masyarakat yang memiliki tempat tinggal layak huni, sehat, hemat energi, serta pengelolaan energi dengan dukungan layanan TIK, pengelolaan, dan peran SDM (people) yang baik.

Para wali kota dan jajarannya mengikuti diskusi panel Indeks Kota Cerdas Indonesia, dengan pembicara Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, dan Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (24/3).Kompas/Totok WijayantoPara wali kota dan jajarannya mengikuti diskusi panel Indeks Kota Cerdas Indonesia, dengan pembicara Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, dan Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (24/3).

Menurut Rektor ITB Kadarsyah Suryadi, parameter ini mendesak untuk diterapkan mengingat tantangan kota-kota modern adalah mengelola keterbatasan sumber daya untuk penduduk yang terus bertambah, baik melalui kelahiran maupun urbanisasi. Pertambahan penduduk lambat laun memunculkan masalah, seperti penurunan kualitas layanan publik, konsumsi energi, dan transportasi, misalnya kemacetan.

”Dengan indeks seperti ini diharapkan muncul lebih banyak lagi kota sebagai tempat hidup yang menyejahterakan,” ungkap CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Selasa.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menambahkan, aspek kepemimpinan juga berperan penting dalam menjamin sebuah kota cerdas. Karakter tersebut diwujudkan dalam kedisiplinan dalam menata kota, misalnya terkait peruntukan lahan dan pemberian sanksi bagi warga yang melanggar ketertiban. ”Kota yang warganya tidak disiplin pasti tidak menarik dan kotor. Pada akhirnya tidak menarik bagi wisatawan,” kata Kalla.

”Kita bicara tentang upaya kita sekarang dan masa depan untuk hidup yang lebih nyaman. Kriterianya banyak. Namun, bayangannya ada kehijauan, ada angkutan umum, rumah bertingkat, lingkungan yang bersahabat, keamanan, dan sebagainya. Inilah cita-cita yang harus kita laksanakan untuk melayani masyarakat kota,” kata Kalla dalam sambutannya.

Peningkatan jumlah penduduk di perkotaan menimbulkan masalah daya dukung yang terbatas dan perlunya manajemen perkotaan yang andal. Untuk itu, perlu adanya gambaran tentang kesiapan dan daya dukung kota-kota di Indonesia dalam meningkatkan pembangunan Indonesia.

Pada 1990, 31 persen dari total penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu naik menjadi 42 persen. Pada 2025, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan akan mendekati 57 persen.

Belum baik

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebutkan, 66 persen dari daerah otonomi baru belum menunjukkan kemampuan tata kelola yang baik. Salah satu indikator adalah ketidakmampuan mendongkrak pendapatan asli daerah serta alokasi belanja aparatur lebih banyak ketimbang belanja program. Ujung-ujungnya adalah mengharapkan dana dari pemerintah pusat.

”Ada 201 perusahaan air minum yang terancam bangkrut. Kami tengah mengupayakan dana talangan Rp 5 triliun untuk menghindari hal tersebut,” kata Tjahjo.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof A Chaniago menerangkan, pemerintah berencana membuat kota baru di luar Jawa mengingat pulau tersebut dihuni 180 juta jiwa penduduk.

Advertisements

About swamandiri

Rusman R. Manik. Minat pada pengembangan local good governance. Selamat datang di SWAMANDIRI.wordpress.COM. Berbagi utk pengembangan local good governance.
This entry was posted in Berita, Diskusi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Mohon masukan dan kritikan konstruktif. Terimakasih

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s