Analisis ICOR Kota Tebing Tinggi 2013-2017

Disarikan dari Laporan Analisis ICOR Kota Tebing Tinggi 2013-2017

Konsep ICOR pada awalnya dikembangkan oleh Sir Ray Harrod dan Evsey Domar yang lebih dikenal dengan Harrod-Domar Model.  Pada intinya teori ini menunjukan adanya hubungan antara peningkatan stok kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output. Semakin tinggi peningkatan stok kapasitas produksi (ΔK) semakin tinggi pula tambahan output (ΔY) yang dapat dihasilkan. Menurut teori, ICOR dapat diukur melalui bentuk fisik ataupun nilai. Namun untuk memudahkan dalam praktek perhitungan, ICOR selalu dilakukan dalam bentuk nilai.

Koefisien ICOR Kota Tebing Tinggi tahun 2013-2017 dapat dilihat pada tabel 4.3. di bawah. Data di tabel 4.3 menunjukkan bahwa rata-rata ICOR Kota Tebing Tinggi pada periode 2013-2017 bernilai di atas 5; ini berarti bahwa kegiatan investasi di Kota Tebing Tinggi cenderung kurang efisien. Beberapa ahli menyatakan secara umum bahwa angka ICOR yang dianggap ideal (efisien) berada pada kisaran 3-4.

Tabel 4.3. Koefisien ICOR Kota Tebing Tinggi, 2013-2017

Jika dilihat lebih rinci pada Gambar 4.6, ICOR Kota Tebing Tinggi sebesar 4,93 pada tahun 2013 mengalami peningkatan pada tahun 2014 dan 2015 sehingga mencapai 5,90 kemudian mulai mengecil pada tahun 2016 dan 2017 hingga mencapai angka 5,48.

Penurunan ICOR pada tahun 2016 dan 2017 ini seiring dengan kenaikan laju pertumbuhan di tahun yang sama. Secara rata-rata dapat dikatakan bahwa pada periode tahun 2013-2017, untuk memperoleh tambahan ouput sebesar 1 (satu) unit diperlukan tambahan investasi sebesar 5,44 unit.

Gambar 4.6. Laju Pertumbuhan Ekonomi ADHK 2010 dan ICOR Kota Tebing Tinggi, 2013-2017 (persen)

Pada periode 2013-2017 besarnya ICOR Kota Tebing Tinggi dengan timelag 0 (lag=0) mempunyai koefisien positif dengan kisaran 4,93 sampai 5,90. Untuk timelag 1 (lag=1) mempunyai koefisien antara 5,30 sampai 5,87 sedangkan di timelag 3 (lag=3) koefisien antara 2,78 sampai 2,87.

Pada periode 2013-2015 koefisien ICOR menunjukkan peningkatan yang berarti bahwa pada periode ini banyak terjadi pengurangan barang modal yang disertai penurunan output. Hal ini disebabkan lesunya pertumbuhan ekonomi akibat kondisi perekonomian global yang tidak stabil. Sebaliknya pada periode 2016-2017 koefisien ICOR cenderung mengecil, ini disebabkan pengeluaran investasi diikuti oleh output yang mulai menanjak naik.

Tabel 4.4. Koefisien ICOR Kota Tebing Tinggi Lag=0, Lag=1, dan Lag=2 dengan Pendekatan Investasi=PMTB + Δ Inventori, 2013-2017

Tabel 4.4 juga merperlihatkan bahwa kegiatan investasi yang ditanamkan di Kota Tebing Tinggi pada berbagai lapangan usaha ekonomi yang ada tidak memberikan output yang optimal pada tahun pertama dan kedua. tetapi akan mulai efisien pada tahun setelahnya.

Mohon masukan dan kritikan konstruktif. Terimakasih

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s